EMAS RAIB, RAKYAT NGENES

BANYUWANGI – Dari tanah emas di ujung timur Jawa, rakyat hanya mewarisi debu, sementara investor asing dan elit politik bersulang dengan keuntungan. Inilah potret nyata tambang emas Banyuwangi yang terus menuai kritik.

“Laaa tambang didol ning wong asing, sekali meledakan 20 ton bahan peledak bisa hancurkan beberapa hektar. Warga? Tetap yang kena dampak,” tulis seorang warganet dengan getir.

Alih-alih menghadirkan kesejahteraan, tambang justru melahirkan luka sosial dan lingkungan. Kritik tajam juga mengarah ke parlemen daerah yang dinilai hanya jadi penonton. “DPR katanya wakil rakyat, tapi bisa nggak jelaskan kemana hasil emas Banyuwangi mengalir? Ada bukti nyata sampai ke rakyat?” tanya seorang warga dalam kolom komentar.

Kekecewaan publik semakin dalam ketika akses ekonomi warga sekitar ditutup rapat, sementara pihak luar masuk dengan mudah. “Rakyat sekitar mau kerja sama dengan BSI susah, tapi orang luar gampang. Itulah yang kami rasakan,” keluh warganet lain.
Dari Pancer, suara lirih tapi tegas muncul: “Sedangkan orang Pancer sendiri nggak dapat apa-apa.” Sebuah ironi di tanah yang kaya emas, namun rakyat lingkar tambang justru hidup dalam kesenjangan.

Tak sedikit yang menyinggung nama besar di balik sejarah tambang. “Tanyakan pada mantan bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, mungkin dia tahu siapa yang menikmati,” tulis akun lain, disertai tawa getir penuh sindiran.

Lebih ironis lagi, infrastruktur di sekitar tambang tetap memprihatinkan. “Kalau memang ada tambang, kenapa jalan tetap rusak? Yang diperbaiki cuma akses ke tambang. Pemerataan belum ada, bos,” sindir warga.

Tambang emas Banyuwangi kini jadi cermin paradoks: kekayaan alam terkuras, rakyat menunggu keadilan yang tak kunjung datang. Pertanyaan besar menggantung: emas Banyuwangi mengalir ke mana, dan kapan rakyat lingkar tambang benar-benar merasakan manfaatnya?

Komentar